Minggu, 21 September 2014

THAHARAH ( KEBERSIHAN ATAU KESUCIAN DALAM ISLAM )

NASKAH PESONA ISLAM

Rubrik                        : Fiqih Kehidupan
Tema                           : Thaharah (Kebersihan atau Kesucian) dalam Islam
Narasumber               : Dr. Salim Segaf al-Jufrie
Presenter                    : Amang Syafrudin, Lc.


I.                   MUKADIMAH


“…Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni'mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu….” (al-Maa-idah: 3)

Melalui ayat di atas, Allah SWT ingin menjelaskan kepada kita bahwa Dia telah menyempurnakan ajaran-ajaran-Nya melalui risalah terakhir, yaitu agama Islam. Agama terakhir yang memuat seluruh nilai-nilai kehidupan. Agama yang merupakan inti ajaran risalah-risalah sebelumnya, agama yang dijadikan Allah SWT sebagai “way of life”  bagi umat manusia. Memang, agama ini merupakan nidzom (aturan) kehidupan yang sifatnya universal dan mengandung nilai yang sangat integral. Tidak ada satu ruang kehidupan pun yang sepi dari sentuhan nilai-nilainya.
Karenanya, selain aqidah, ibadah, dan akhlak, Islam juga berbicara tentang kesucian dan kebersihan. Kebersihan yang mencakup semua aspek, baik yang berkaitan dengan  aspek lahiriah maupun batiniah. Allah berfirman mengenai hal ini dalam kitab-Nya.

“dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa (menyembah berhala) tinggalkanlah.” (al-Muddatstsir: 4-5)


“…Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (al-Baqarah: 222)    

“Janganlah kamu bersembahyang dalam mesjid itu selama-lamanya. Sesungguh-nya mesjid yang didirikan atas dasar taqwa (Masjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu shalat di dalamnya. Di dalamnya mesjid itu ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih.” (at-Taubah: 108)

Oleh karena itu, melakukan kebersihan dan kesucian bukan sekedar melakukan kebiasaan, tetapi merupakan ibadah yang dianjurkan Islam. Bahkan, Allah Azza wa Jalla sangat mencintai dan menyayangi orang-orang yang bersih. Karena urgensi kebersihan ini, Allah SWT memerintahkannya di saat yang sama ketika Dia  memerintahkan dakwah, sebagaimana yang dijelaskan dalam beberapa ayat awal yang ada dalam surat al-Muddatstsir.


II.                PENGERTIAN THAHARAH DAN HUKUMNYA


Secara etimologi, thaharah berarti bersih dan suci dari segala kotoran, baik yang lahiriah seperti najis,  maupun ma’nawiah, seperti noda-noda dosa dan kemaksiatan.

Adapun secara terminologi syar’i,  fuqaha Islam berbeda pendapat. Namun, setiap pendapat bertemu pada esensi yang sama, sebagaimana disebutkan di bawah ini.
1. Ulama Hanafiah mendefinisikan thaharah sebagai berikut.
“Thaharah adalah bersih dan suci dari najis, baik najis yang hakiki seperti kotoran, maupun yang hukmi seperti hadats (buang angin, janabat dll)” (Lihat al-Lubab Syarh al-Kitab 1/10, dan ad-Durru al-Mukhtar 1/79)
2. Imam Nawawy berkata, “Thaharah adalah menghilangkan hadats dan najis, atau yang sejenisnya yang masih dalam bingkai thaharah itu sendiri.” (Lihat al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab 1/124, dan Mughni al-Muhtaaj 1/16)
3. Adapun asy-Syafi’iah memasukan amalan sunnah ke dalam thaharah, seperti memperbarui wudhu, mengulang mandi, dan membasuh lebih dari batasan minimal.
4. Madzhab Malikiah dan Hanabilah mendefinisikan thaharah sebagai berikut.
“Mengangkat atau menghilangkan sesuatu yang menjadi penghalang shalat dari hadats, atau menghilangkan najis dengan air, atau menghilangkan hukumnya dengan debu.” (Lihat Asyarh Ashaghir 1/26, Asyarh al-kabir 1/30, dan al-Mughni 1/6)

·         Hukum Thaharah


Hukum thaharah adalah wajib. Hal ini didasarkan kepada Al-Qur`an dan as-Sunnah.

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan ni'mat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.” (al-Maa-idaah: 6)

“dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa tinggalkanlah…”
(al-Muddatstsir: 4-5)

“…Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (al-Baqarah: 222)     

Rasulullah saw. bersabda, “Kunci shalat adalah bersuci.” Dalam riwayat yang lain, “Shalat tidak akan diterima dengan tanpa bersuci” (HR. Imam Muslim)

“Kebersihan (kesucian) itu sebagian dari iman” (HR. Muslim)


III.             URGENSI THAHARAH DAN MACAM-MACAMNYA


Thaharah memiliki urgensi tersendiri dalam ruang lingkup ibadah yang ada dalam ajaran Islam. Ia memiliki posisi khusus dan kedudukan sendiri diantara ibadah-ibadah lainnya. Bahkan, ia merupakan penentu akhir sah dan tidaknya suatu ibadah, seperti ibadah sholat, puasa, thawaf dan wuquf. Karena, tanpa thaharah, ibadah-ibadah ini tidak diterima di sisi Allah SWT dan tidak sah menurut syari’at.

Dari sini kita bisa mengkonklusikan urgensi ibadah thaharah sebagai berikut.

Ø  Merupakan syarat sahnya shalat (al-Maa-idaah: 6)

Rasulullah saw. bersabda, “Tidak diterima shalat seseorang diantara kalian—apabila sedang hadats—hingga ia berwudlu.” (HR. Imam al-Bukhari)

Ø  Media pengagungan terhadap Allah SWT

“…bangunlah, lalu berilah peringatan! dan Tuhanmu agungkanlah! dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa tinggalkanlah,…” (al-Muddatstsir: 2-5)

Ø  Memelihara kesehatan, baik yang bersifat khusus maupun umum
Ø  Membangun penampilan yang prima dan indah

Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya kalian akan bertemu dengan saudaramu, maka perbaikilah kendaraanmu dan benahilah pakaian-pakaianmu….” (HR. Ahmad dalam Musnad-nya, Abu Dawud, al-Hakim, dan al-Baihaqi)

Ø  Memelihara lingkungan dan masyarakat dari benih-benih penyakit

·         Macam-macam Thaharah

Dari beberapa definisi di atas mengenai thaharah, kita dapat mengkonklusikan bahwa thaharah terbagi menjadi dua macam, yaitu thaharah secara lahiriah dan batiniah.
Adapun yang dimaksud dengan thaharah batiniah adalah tazkiatun nafs (mensucikan jiwa) dari noda-noda dosa dan maksiat. Pensucian ini bisa dilakukan dengan cara bertaubat yang sebenarnya, atau yang sering disebut dengan taubatan nashuha. Termasuk kategori thaharah batiniah adalah apabila seorang hamba melakukan pensucian jiwa dari kotoran-kotoran syirik, syak, hasud, dengki, penipuan, sombong, ujub, riya dan sum’ah (suka didengar), dan pensucian jiwa ini bisa dilakukan dengan beberapa langkah berikut.

Ø  Ikhlas

Ø  Yakin
Ø  Cinta kebaikan
Ø  Santun
Ø  Jujur
Ø  Tawadlu’
Ø  Hanya ingin ridha Allah semata
Ø  Amal soleh

Adapun yang dimaksud dengan thaharah lahiriah adalah suci dari najis dan hadats secara lahiriah. Najis itu sendiri bisa disucikan dengan beberapa cara sebagai berikut.

Ø  Bersuci dengan air

“Dia lah yang meniupkan angin (sebagai) pembawa kabar gembira dekat sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); dan Kami turunkan dari langit air yang amat bersih” (al-Furqaan: 48)

Rasulullah saw. bersabda, “Air itu suci mensucikan, kecuali jika bau, atau rasa, atau warnanya berubah karena najis yang ada padanya.” (HR. al-Baihaqi, dha’if, namun memiliki asal shahih dan semua ulama berhujjah dengan hadits ini)

Ø  Bersuci dengan tanah

Rasulullah saw. bersabda, “Apabila salah satu diatara kamu sampai di masjid, hendaklah membalik kedua sandal dan menelitinya. Maka, apbila ia melihat kotoran atau najis, hendaklah ia menggosok-gosokkan dengan tanah, kemudian baru shalat dengan keduanya.” (HR. Abu Dawud, al-Hakim, dan Ibnu Hibban)

Ø  Mengelap dengan kain

Diriwayatkan bahwa para sahabat Rasul ketika kembali dari peperangan, mereka mengelap pedang-pedangnya dengan kain, kemudian mereka shalat dengan membawa pedang tersebut.

Ø  Kering dengan sinar matahari atau angin yang mampu menghilangkan bekas-bekas najis.

Ø  Berulang-ulang tersapu jalan sehingga rasa, bau dan warna najis hilang.

Ummu Salamah ra. berkata, “Aku seorang wanita yang suka memanjangkan ujung pakaian, dan kebetulan aku berjalan di tempat yang bernajis, lalu Rasulullah bersabda, “(Kain itu) Suci dengan sapuan setelahnya” (HR. Abu Dawud)
Ø  Menggaruk-garuk
Aisyah ra. berkata, “Aku menggaruk-garuk sperma yang ada di pakaian Rasulullah apabila kering, dan aku membasuhnya apabila masih basah.” (HR Imam al-Bukhari)

Ø  Menyamak
Rasulullah saw. bersabda, “Kulit apa pun apabila disamak, maka ia menjadi suci” (HR. Imam Muslim)

Kemudian, hadats hanya bisa disucikan dengan tiga cara berikut ini.

Pertama, berwudhu apabila berkaitan dengan hadats kecil, seperti buang angin, buang kotoran, keluar madzi dan lain sebagainya.
Kedua, mandi apabila berkaitan dengan hadats besar, seperti junub, haid, dan nifas.
Ketiga, tayammum apabila tidak ditemukan atau tidak bisa menggunakan air.   


IV.             KEUTAMAAN THAHARAH


Untuk mendorong setiap muslim selalu melakukan ibadah thaharah, Islam telah memberikan gambaran sendiri tentang keutamaan ibadah ini, yaitu sebagaimana disebutkan di bawah ini.

Ø  Allah mencintai orang-orang yang melakukan thaharah

“…Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (al-Baqarah: 222)    

Ø  Sebagai salah satu tanda ummat Muhammad pada Hari Kiamat

Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya ummatku dipanggil pada Hari Kiamat (dengan kondisi) wajah, serta kedua tangan dan kakinya bercahaya dari dampak berwudhu. Maka, barangsiapa yang ingin meluaskan (mengkuatkan) cahaya wajahnya hendaklah ia melakukannya (berwudhu).” (Muttafaqun ‘Alaih)

Bertanya seseorang kepada Rasulullah saw., “Bagaimanakah engkau mengenali orang yang datang setelah kita dari ummatmu ya ..Rasulullah?” Beliau menjawab, “Sekiranya ada seseorang memiliki kuda, wajah, dan semua kakinya berwarna putih cerah diantara kuda-kuda yang berwarna hitam legam, tidakkah ia akan mengenali kudanya?” Mereka menjawab, “Benar, ya Rasulullah.” Lalu, beliau bersabda, “Sesungguhnya mereka akan datang dengan kondisi wajah dan kedua tangan serta kakinya bercahaya dikarenakan wudhu mereka….”
(HR. Imam Muslim)


Ø  Menghapus dosa-dosa kecil

“Barangsiapa yang berwudhu dan ia memperbaiki wudhunya, maka kesalahan-kesalahannya akan keluar dari jasadnya hingga keluar dari bawah kuku-kukunya.” (HR Imam Muslim)

“Apabila seorang muslim—atau mukmin—membasuh wajahnya, maka semua kesalahannya langsung keluar dari wajahnya, sementara ia menyaksikannya dengan matanya. Kesalahannya  bersama air atau bersama tetesan terakhir wudhu tersebut. Apabila ia membasuh kedua tangannya, maka semua kesalahannya langsung keluar dari kedua tangannya bersama air atau bersama tetesan terakhir wudhu tersebut, dan apabila ia membasuh kedua kakinya, maka semua kesalahannya langsung keluar dari kedua kakinya bersama air atau bersama  tetesan terakhir wudhu tersebut, sehingga ia suci dari semua dosa.” (HR Imam Muslim)

Ø  Meningkatkan derajat di sisi Allah

“Maukah kalian aku tunjukkan kepada sesuatu yang dengannya Allah akan menghapus dan mengangkat derajat seseorang?” Mereka menjawab, “Mau,  wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Menyempurnakan wudhu pada kondisi yang berat, banyak langkah menuju masjid, dan menunggu shalat setelah shalat. Maka, yang demikian itu sesuatu yang dicintai (makna yang lain adalah bentuk perjuangan)” (HR. Imam Muslim)


V.                PENUTUP


Setelah memahami urgensi dan keutamaan thaharah dalam ajaran Islam, sudah seharusnya kita sebagai ummat Islam yang telah mendapatkan identitas khairu ummat, ummatan wasathan (umat yang selalu menegakkan nilai keadilan dan kebenaran), dan mengemban tugas sebagai syuhada ‘alaa an-naas (saksi bagi manusia), mampu untuk mengimplementasikan keluhuran nilai ibadah thaharah tersebut dalam kehidupan kita semua. Khususnya, yang berkaitan dengan thaharah batiniah, yaitu tazkiatun nafs (mensucikan jiwa).
Akhirnya, kita hanya bisa berharap semoga kita menjadi model muslim yang berhati suci dan berpenampilan rapi. Wallahu a’lam bish-shawwab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar